GAMBARAN PELAKSANAAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP DEWASA RSUD PANEMBAHAN SENOPATI KABUPATEN BANTUL

Bekti Sukoco, - (2011) GAMBARAN PELAKSANAAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP DEWASA RSUD PANEMBAHAN SENOPATI KABUPATEN BANTUL. Post-Doctoral thesis, STIKES Jenderal Achmad Yani Yogyakara.

[img]
Preview
Text
Bekti Sukoco_3208060_nonfull.pdf

Download (442kB) | Preview
[img] Text
Bekti Sukoco_3208060_full.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (714kB)

Abstract

Komunikasi terapeutik memfasilitasi pembentukan hubungan perawat-klien dan memenuhi tujuan keperawatan (Stuart & Laraia, 1998). Perawat yang memiliki keterampilan berkomunikasi secara terapeutik, tidak hanya akan mudah menjalin hubungan rasa percaya dengan klien, tetapi juga mencegah terjadinya masalah ilegal, memberikan kepuasan profesional dalam pelayanan keperawatan dan meningkatkan citra profesi keperawatan dan citra rumah sakit (Achir Yani, 1996 dalam Nasir dkk, 2009:142). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tentang pelaksanaan komunikasi terapeutik perawat pada fase orientasi, fase kerja, fase terminasi dan hubungan antara karakteristik individu dengan pelaksanaan komunikasi terapeutik perawat di ruang rawat inap dewasa RSUD Panembahan Senopati Kabupaten Bantul Desain penelitian ini menggunakan observasional deskriptif. Teknik sampling yang digunakan adalah random sampling. Sampel yang diambil sebanyak 47 responden, yaitu perawat pelaksana fungsional yang bertugas di ruang rawat inap dewasa RSUD Panembahan Senopati Kabupaten Bantul. Data penelitian ini diambil dengan menggunakan instrumen pedoman observasi chek-list. Setelah ditabulasi, data yang ada dianalisis menggunakan uji Chi Square, dengan tingkat kemaknaan 0,1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan komunikasi terapeutik perawat adalah pada kategori kurang, yaitu sebanyak 34 orang (72,3%), sedangkan kategori baik sebanyak 13 orang (27,7%). Pelaksanaan komunikasi terapeutik fase orientasi adalah pada kategori kurang, yaitu sebanyak 35 orang (74,5%), sedangkan kategori baik sebanyak 12 orang (25,5%). Pelaksanaan komunikasi terapeutik fase kerja adalah pada kategori baik, yaitu sebanyak 26 orang (55,3%), sedangkan kategori kurang sebanyak 21 orang (44,7%). Pelaksanaan komunikasi terapeutik fase terminasi adalah pada kategori kurang, yaitu sebanyak 39 orang (83%), sedangkan kategori baik sebanyak 8 orang (17%). Dari hasil pengujian statistik terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dan pelatihan komunikasi terapeutik dengan pelaksanaan komunikasi terapeutik, dimana p value= 0,080 dan 0,042. Sedangkan antara umur, pendidikan dan lama kerja dengan pelaksanaan komunikasi terapeutik tidak terdapat hubungan yang bermakna, dimana p value= 0,564, 0,181 dan 0,928. Melihat hasil penelitian ini maka perlu adanya peningkatan pelaksanaan komunikasi terapeutik oleh perawat terutama pada fase orientasi dan fase terminasi. Perlu diadakannya pelatihan tentang komunikasi terapeutik terhadap perawat secara berkala, pembuatan protap pelaksanaan komunikasi terapeutik, penambahan tenaga perawat, pemberian reward, peningkatan pelaksanaan komunikasi terapeutik oleh perawat.

Item Type: Thesis (Post-Doctoral)
Additional Information: Dosen Pembimbing 1 :Wenny Savitri Dosen Pembimbing 2 :Nurul Budi Santoso
Uncontrolled Keywords: gambaran pelaksanaan komunikasi terapeutik.
Subjects: Keperawatan > PD Keperawatan Dasar (termasuk di dalamnya manajemen keperawatan)
Divisions: Fakultas Kesehatan > Prodi Ilmu Keperawatan
Depositing User: Admin Repository Perpustakaan
Date Deposited: 07 Nov 2017 08:51
Last Modified: 07 Nov 2017 08:51
URI: http://repository.unjaya.ac.id/id/eprint/784

Actions (login required)

View Item View Item