Pramesti Ratu Fiqih, - and Niken Wahyuning Retno Mumpuni, - (2025) Ratio Decidendi Pengadilan Agama Terhadap Permohonan Izin Poligami (Studi Putusan Pengadilan Agama Sidoarjo Nomor 1671/Pdt.G/2022/PA.Sda). Diploma thesis, Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta.
Judul_212302009_Pramesti Ratu Fiqih_Hukum.pdf
Download (1MB)
Abstrak_212302009_Pramesti Ratu Fiqih_Hukum.pdf
Download (229kB)
BAB 1_212302009_Pramesti Ratu Fiqih_Hukum.pdf
Download (249kB)
BAB 2_212302009_Pramesti Ratu Fiqih_Hukum.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (294kB)
BAB 3_212302009_Pramesti Ratu Fiqih_Hukum.pdf
Download (236kB)
BAB 4_212302009_Pramesti Ratu Fiqih_Hukum.pdf
Download (452kB)
BAB 5_212302009_Pramesti Ratu Fiqih_Hukum.pdf
Download (212kB)
DAFTAR PUSTAKA_212302009_Pramesti Ratu Fiqih_Hukum.pdf
Download (375kB)
LAMPIRAN_212302009_Pramesti Ratu Fiqih_Hukum.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (552kB)
Plagiarisme_212302009_Pramesti Ratu Fiqih_Hukum.pdf
Download (6MB)
Abstract
Permohonan izin poligami dengan alasan kebutuhan biologis yang tinggi menjadi polemik dalam praktik peradilan agama di Indonesia. Perbedaan pendekatan antar hakim dalam menafsirkan alasan tersebut menimbulkan ketidakseragaman putusan dan menimbulkan ketidakpastian hukum. Penelitian ini berfokus pada ratio decidendi hakim dalam menolak permohonan izin poligami dalam Putusan Pengadilan Agama Sidoarjo Nomor 1671/Pdt.G/2022/PA.Sda, dengan menekankan bagaimana kebutuhan biologis diposisikan dalam kerangka hukum yang berlaku. Penelitian ini merupakan penelitian hukum dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Bahan hukum yang digunakan meliputi bahan hukum primer berupa undang-undang, kompilasi hukum Islam, dan putusan pengadilan, serta bahan hukum sekunder berupa literatur hukum yang relevan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan, dan dianalisis secara kualitatif dengan metode preskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa majelis hakim dalam Putusan Nomor 1671/Pdt.G/2022/PA.Sda menafsirkan secara restriktif syarat-syarat poligami sebagaimana tercantum dalam Pasal 4 ayat (2) Undang-Undang Perkawinan dan Pasal 57 Kompilasi Hukum Islam. Alasan kebutuhan biologis yang tinggi dinilai tidak termasuk alasan sah yang dapat membenarkan pemberian izin poligami.
Hakim menggunakan prinsip kehati-hatian dan menolak memperluas tafsir terhadap ketentuan hukum yang berlaku, demi menjaga perlindungan terhadap istri dan institusi perkawinan. Penelitian ini menyarankan agar Mahkamah Agung menerbitkan pedoman teknis untuk menyamakan penafsiran hakim dalam perkara izin poligami serta mendorong pembentuk undang-undang untuk merevisi ketentuan hukum terkait guna
memperjelas batasan alasan sah. Selain itu, penting bagi hakim untuk mempertimbangkan aspek psikologis, medis, dan dampak sosial secara komprehensif agar putusan yang diambil sejalan dengan prinsip keadilan substantif dan perlindungan terhadap hak perempuan.
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Subjects: | K Law > K Law (General) |
| Divisions: | Faculty of Law, Arts, Social Sciences, and Economy > School of Law |
| Depositing User: | Mrs Tiara DP |
| Date Deposited: | 29 Jul 2026 08:25 |
| Last Modified: | 29 Jul 2026 08:25 |
| URI: | https:///id/eprint/6945 |
